Take a fresh look at your lifestyle.

Sayang, Kuhanya Ingin Hidup Bersamamu Dengan Bahagia

Setiap malam minggu akhir pekan, saya dan istri kompak berdandan rapi dan wangi untuk nge-date dan dinner keluar bersama. 

Bahagia Bersamamu sayang
0 580

Saya cukup, berusaha mengupayakan 11 (sebelas) hal, maha penting ini, ketika kelak saya beristri dan dikaruniai putera-puteri yang sehat-sehat lucu menggemaskan—dan membiarkan anak-anak saya melihat 11 (sebelas) hal menakjubkan yang dilakukan papa-mamanya ini, setiap hari.

Saya dan istri setiap pagi akan shopping bareng, 

dan breakfast bersama di luar. Dari rumah sudah pegangan tangan bareng. Anak-anak? Enggak diajak lah. Biarin mereka nonton dari balik jendela sambil gigit jari. Ciyan deh lu, gak diajak.

Saya dan istri setiap hari, akan sering pecicilian kejar-kejaran di rumah seperti ABG baru pacaran,

Atau persis seperti Salman Khan dan Preitty Zinta beradegan kejar-kejaran di film Chori Chori Chupke Chupke. Anak-anak? Biarin mereka bengong lihat papa-mamanya seperti anak-anak. Kejar-kejaran, tangkap-tangkapan, ketawa-ketawa, seolah dunia milik berdua.

Saya dan istri setiap pagi setiap hari, akan saling kompak membuatkan sesuatu. 

Mungkin hari ini saya menyiapkan secangkir teh sariwangi kesukaannya. Sembari saya berkata lebih dulu sebelum istri beranjak: “Cucian sudah aku selesaikan tadi malam, dan masakan sarapan pagi ini sudah aku siapkan, omelette nasi goreng kesukaan kamu”. Dan istri saya akan terkaget: “Ya Allah, aku minta maaf karena tidak bangun lebih awal, sebagai gantinya biar aku siapkan air mandi hangat buat kamu, stay there diem di situ jangan ngapa-ngapain.

Aku masakkan juga sarapan tumis jamur panas kesukaan kamu. Diem di situ”. Dan saya akan langsung duduk diam dengan patuh. Anak-anak? Menonton seluruh adegan tersebut sembari mencomot sarapan roti tawar selai strawberry kesukaan mereka.

Saya dan istri setiap usai istirahat dzuhur, jika saya di kantor saya dan dia di kantornya juga, akan konsisten meluangkan waktu 10 menit untuk telfon,

 “Sayang, bekal makan siang yang kamu masakin buat aku, is the best, aku kasih rating 9 dari 5 bintang, alias aku kasih bonus 4 bintang. But remember, enggak perlu setiap hari juga. Kamu enggak wajib masak setiap hari, Sayang. Memasak itu kewajiban aku sebagai suami”. Dan di seberang sana suara lembut membalas, “No, no, no… sebagai ahli nutrisi pribadi Tuan Tris Erlangga, it’s my duty to prepare the most delicious yet hygiene foods. It’s my pleasure”. Dan sampai di rumah, ketika kami pulang dan saling bertemu, kami berpelukan laaaammmma sekali, seperti salah satu pihak baru pulang dari medan perang di Afghanistan. Anak-anak? Biarin mereka jadi penonton.

Menyambung poin nomor 4, saya dan istri langsung duduk di teras belakang yang menghadap kolam renang pribadi yang di sekelilingnya ditumbuhi 4 pohon palem, dan kami saling tenggelam dalam obrolan mendalam tentang apa saja yang baru kami lewati di hari itu selama di luar. 

Cekikikan ketika sampai pada cerita yang membikin ketawa. Kemudian saling gantian mendengarkan dengan serius dan saksama manakala sampai di cerita yang perlu disimak dengan detil dan sangat penting. Jika sampai di cerita yang kurang menyenangkan, salah satu pihak segera memberikan ekspresi wajah yang shock, gloomy, dan ikut berempati. Kami punya waktu we-time bersama setiap malam. Anak-anak? Biarin mereka menopang dagu di samping kami yang sudah persis pemeran sedu sedan dan sendu drama Korea.

Setiap malam minggu akhir pekan, saya dan istri kompak berdandan rapi dan wangi untuk nge-date dan dinner keluar bersama. 

Saya dengan pakaian jas tuxedo, dan istri dengan paduan hijab dan blazer yang ia sukai (atau sheath-dress jika dinner di rumah di gazebo taman belakang). Anak-anak? Yah, kali ini kita ajak deh, mereka dinner bareng papa mamanya. Tapi harus sambil pegang kamera, rekam adegan-adegan romantis candle-light dinner papa-mamanya.

Di rumah, setiap hari saya dan istri menggunakan nickname yang cute yang gonta-ganti setiap hari. 

Hari Senin panggilannya darling. Hari Selasa panggilannya dear. Hari Rabu panggilan satu sama lain adalah Diajeng dan Kakanda. Hari Kamis panggilannya Sayang. Hari Jum’at panggilannya Ya Habibi. Hari Sabtu panggilannya “Hai Cintakuh”. Hari Ahad panggilannya “Permaisuri” dan “Pangeran”. Putera puteri kami setiap hari melongo dan terbengong-bengong, melihat papa mamanya bisa terus menerus mempertontonkan kemesraan yang konsisten dan tidak ada habis-habisnya.

Bahkan jika kami saling berargumen, kami mempertontonkannya dengan elegan. “Esmeralda! Aku tidak bisa menerima usulanmu, wahai Esmeralda! Itu terlalu beresiko!” Dan istri saya menimpali, “Cukup, Alehandro! Kita tidak punya waktu lagi. Kita harus mengambil keputusan hari ini juga”. Dan saya akan menjawab, “OKAY, deal. Berarti sambal lalab masakan hari ini, 12 cabe rawit. Dan pihak yang pertama kali nangis kepedesan, wajib traktir es krim Wall’s Viennetta”. Dan istri saya kembali menimpali, “Bagaimana anak-anak?! Kesepakatan ini sah???” Dan anak-anak saya berteriak koor serempak: “SAAAHHH!!!”

Tiap dua minggu sekali, saya dan istri liburan keliling kota-kota di seluruh Indonesia.

Mungkin tengah bulan ke Yogyakarta. Akhir bulannya ke Semarang. Tengah bulan kedua ke Labuan Bajo. Akhir bulan kedua ke Pontianak. Happy senang-senang berdua. Anak-anak? Ketika sudah besar, tidak diajak. Biarin aja mereka bosan mati gaya di rumah.

Tiap bulan, saya dan istri ada agenda nonton bareng di XXI, atau Cinemax, atau CGV. Kalau perlu pakai kaos couple seperti ABG.

Anak-anak? Ya di rumah. Biarin aja mereka bosan mati gaya di rumah.

Tiap bulan, saya dan istri saling kasih surprise kado satu sama lain. 

Mungkin saya akan menghadiahkannya satu set lingerie yang dia suka. Dan barangkali istri saya akan menghadiahkan satu set dasi yang saya inginkan atau parfum yang saya sukai. Anak-anak? Mmmmm… kasih gak yaaa.

Tiap akhir bulan, saya dan istri duduk bersama berhadap-hadapan di sofa ruang tengah, melakukan SATU RITUAL PALING PENTING, di mana kami saling menggenggam erat jemari tangan masing-masing.

Dan bergiliran berkata, lirih: “Kamu ingat, hari minggu kemarin? Cucian telat aku angkat lebih awal sebelum mendung, dan jadi kamu yang mengangkatnya duluan ketika tiba-tiba hujan, dan akhirnya kamu kehujanan, lalu kamu sempat sakit dua hari. That was my fault. Itu kesalahan aku. Suamimu ini sudah berdosa membuat istrinya jatuh sakit. From the deepest of my heart, I seek of your apologize”, ucap saya sembari mengecup erat punggung jemari tangannya, diiringi sebutir permata yang jatuh dari mata saya, dan istri saya kedua bola matanya ikut berembun, dan jatuh menetes menganak sungai menjadi air mata. “It’s okay, Mas, ya ampun… Malah aku yang harusnya minta maaf.

Air galon minggu kemarin habis, aku tidak sempat pesan ke si bibi warung sebelah untuk dibawakan ke rumah, dan akhirnya jadi kamu yang beli sendiri dan memanggulnya sendiri, lalu mungkin karena kamu sedang tidak fit, kewaspadaan kamu menurun, kamu menginjak jalan yang kebetulan licin dan akhirnya kamu kepeleset. Bekasnya masih ada sampai sekarang, kaki kanan kamu masih ada bekas luka. It’s me the one who should seek your apologize…“, desis istri saya sembari balas mengecup punggung tangan saya dengan sedu tangis yang tidak bisa ditahan. Di akhir sesi ritual saling meminta pemaafan atas hal-hal besar maupun kecil yang terjadi sepanjang satu bulan ke belakang tersebut, kami menutup ritual tersebut dengan saling terisak dan berpelukan erat, selama mungkin. Dan… anak-anak kami, harus melihat seluruh adegan tersebut itu semua.

Sekiranya Allah mengizinkan saya memiliki keluarga kecil, dengan istri yang mencintai saya dan saya pun mencintainya, dan kami dikaruniai putera dan puteri, maka setelah saya mampu memberikan fasilitas yang terbaik untuk keluarga kecil saya, cita-cita dan impian terbesar saya selanjutnya hanyalah:

…menjadi sepasang suami-istri yang terus erat, lengket, kompak, solid, hangat, cute, karib, akrab, satu sama lain…

  • sehingga anak-anak kami tertanam dalam benak pikirannya sejak kecil, bahwa hubungan pernikahan yang sejati, sehat, ideal itu, haruslah seperti hubungan hebat papa dan mamanya.
  • sehingga anak-kami bisa terus greget kepada kami sebagai papa-mamanya, mereka harus iri dengan kami, yang selalu bisa asyik ngobrol lama berdua.
  • anak-anak kami harus terus penasaran dan bertanya setiap hari kepada kami papa-mamanya, “Ayah, Ibu, gimana ceritanya sih dulu ketemu? Ayah, Ibu, orang-tua anak-anak yang lain kayaknya enggak ada deh yang segreget Ayah dan Ibu, kok bisa sih?”
  • anak-anak kami harus sudah terbiasa terlatih sendiri untuk memahami, bahwa agar bisa seperti papa dan mamanya, maka mereka harus menjadi mandiri, independen, dan berhasil, di usia semuda mungkin.
  • anak-anak kami perlahan namun pasti, tidak akan mengidolakan siapapun di dunia ini, selain mengidolakan… papa dan mamanya.

Bagi mereka, kami adalah sosok panutan, sosok teladan nyata, yang harus mereka contoh tanpa perlu kami ajarkan, tanpa perlu kami petuahkan, tanpa perlu kami diktekan.

Mereka melihat sendiri dengan mata kepala mereka sejak kecil, bahwa papa-mamanya adalah sebaik-baik suri tauladan, sosok yang patut menjadi contoh panutan, bagaimana menjalani hidup, yang selalu penuh gembira, ceria, syukur, haru, dan mereka bangga… memiliki kami.

Leave A Reply

Your email address will not be published.