Take a fresh look at your lifestyle.

Menangislah Bukan Karena Lemah, Tapi Kadang Air Mata Bisa Melegakan Semuanya

Menangislah, Bukan Karena Kamu Lemah, Tapi Karena Kamu Memang Hanya Manusia Biasa

Menangislah bukan karena lemah Via dramabeans.com
0 166

Tuhan Maha tahu bahwa kamu hanyalah manusia biasa. Tuhan pun tahu bahwa kamu tidak bisa selalu menyampaikan perasaanmu dengan kata kata. Sehingga, Tuhan memberikanmu air mata dan senyuman manis untuk membantumu menyampaikan segala perasaanmu. Tuhan membantumu bangkit dengan tangisan atau senyuman untuk menguatkanmu, saat kamu tak bisa menemukan ungkapan yang tepat untuk mengekspresikannya.

Jadi jangan pernah malu untuk menangis, jangan pernah malu untuk mengatakan hal yang sejujurnya dengan meneteskan air mata. Karena itu semua bukan tanda bahwa kamu lemah, tapi justru tanda bahwa kamu menyadari, bahwa dirimu hanyalah manusia biasa. Manusia yang bisa merasakan rasa sakit, sedih, bahagia dan ingin untuk dicintai, juga memberikan cinta yang kamu punya.

Menangislah, meskipun hanya Tuhan yang tahu rintihanmu, meskipun semua masalah memang tak mudah terselesaikan dengan tangisan. Tapi setidaknya, ada sedikit dalam sisi hatimu yang lega, dan setelahnya, ada semangat baru untuk menatap masa depan kembali.

Menangislah, Saat Kamu Merasa Bebanmu Begitu Berat Dan Menyesakkan. Ungkapkan Segala Perasaanmu Di Hadapan Tuhanmu Lewat Tangisanmu

Saat berhadapan dengan orang orang yang kamu sayangi disekitarmu, kamu tidak akan menunjukkan tangisan atas betapa lelahnya hidup yang kamu jalani. Kamu menahannya sekuat tenaga, agar mereka tak merasa khawatir dan risau karenamu. Apalagi, jika ada diantaranya ada yang menggantungkan hidupnya padamu. Maka kamu harus terlihat kuat dan tegar dihadapan mereka.

Namun, kamu tetap hanyalah manusia biasa. Kamu juga merasa takut, lelah dan khawatir. Dan Untunglah, kamu tetap punya sandaran hidup, tempat bersujud, yaitu Tuhanmu. Maka menangislah disana, tumpahkan segala keluh kesah dan perasaanmu.

Ungkapkan! Karena Tuhan akan tetap mengerti, meskipun mulutmu terkunci. Tuhan tetap tahu apa yang terjadi, meski kamu tak menemukan kata yang tepat. Jadi menangislah dalam sujudmu, dan biarkan Tuhan memberikan kehanagatan yang menyelimuti tubuhmu dengan cahayaNya.

Menangislah, Bukan Karena Kamu Lemah, Tapi Karena Kamu Memang Hanya Manusia Biasa

Tak mengapa, jika tak bisa jadi kuat. Tak mengapa, saat ternyata setelah semua usahamu, kegagalan yang menghampirimu. Tak mengapa, saat ternyata kamu belum bisa menjadi apa yang orang lain mau atau dirimu inginkan. It’s okay not to be okay.

Yang terpenting tetaplah jadi dirimu sendiri, tetap melakukan apa yang kamu mau dan menurut kebenaran yang Tuhan tunjukkan dalam hatimu. Jangan takut untuk melangkah sesuai dengan kehendakmu, saat kamu tahu dan sadar akan setiap resikonya. Juga siap bertanggung jawab atasnya. Dan saat kamu merasa lelah, takut dan bingung, maka menangislah. Menangis bukan karena kamu adalah seorang yang lemah. Tapi karena kamu adalah manusia biasa.

Menangislah, Karena Memang Tak Semuanya Bisa Di Ungkapkan Lewat Kata. Kadang Air Mata Sudah Cukup Menunjukkan Ketulusan Dan Kesedihan Dari Dalam Lubuk Hatimu.

Saat kamu mendapatkan kebahagiaan, yang membuatmu benar benar merasa bersyukur dan terharu, maka kamu akan menangis. Menangis sebagai wujud ungkapan kebahagiaan dan syukur yang luar biasa. Hingga kamu tak bisa menemukan satupun kata yang tepat untuk mengekspresikannya.

Saat kamu merasa begitu sedih, kehilangan dan ketakutan, maka kamupun akan menangis. Menangis karena rasa kecewa yang begitu menyayat hati, rasa sedih yang menyakitkan atas hilangnya seseorang yang istimewa dan berharga dalam hidupmu.

Menangis memang tak bisa membuat kehilangan, kekecewaan atau kesakitan itu benar benar tersembuhkan. Menangis memang tidak bisa membuat semua masalah dan keinginanmu terwujud. Tapi setidaknya, kamu sedang menunjukkan suatu ketulusan yang tak mampu diungkapkan dengan kata kata. Dan sedikit membuat hatimu merasa lega, setelah menumpahkan segala rasa.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page