Take a fresh look at your lifestyle.

7 Fakta Tentang Denmark yang Harus Kamu Tahu, Bersih dan Nyaman Kotanya

Ya, walaupun selalu digembar-gemborkan sebagai negara paling bahagia di dunia, saya merasa tidak cocok. Tapi tentu saja banyak hal positif yang saya rasakan,

Denmark
0 168

Hayo siapa yang tidak mengenal denmark, salah satu negara skandinavia. Bagiamana rasanya tinggal di Kota yang mendapat julukan kota paling bahagia di dunia ini pada tahun 2013. Rasanya setiap orang ingin dilahirkan bahagia, beruntunglah orang yang lahir dan tinggal di Denmark. Namun seperti negara-negara lainnya ada juga yang tidak membuat senang di Denmark.

Seperti penuturan dari Hans Becker yang pernah tinggal di Kopenhagen, Denmark pada tahun 2015 sampai dengan 2018. Berikut penuturannya untuk menjawab pertanyaan di quora.com dengan pertanyaan, Bagaimana rasanya tinggal di negara-negara Skandinavia?

Saya kuliah di Denmark selama 3 tahun, di akhir tahun saya menetapkan pikiran bahwa saya tidak mau tinggal di Skandinavia lagi.

Ya, walaupun selalu digembar-gemborkan sebagai negara paling bahagia di dunia, saya merasa tidak cocok. Tapi tentu saja banyak hal positif yang saya rasakan, contohnya :

1. Sistem kesejahteraan yang begitu memihak kepada rakyat.

Pendapatan saya dipotong sebesar 35% untuk pajak dan kontribusi sosial, saya rasa saya masuk di golongan yang termasuk rendah. Lantas dengan jumlah pajak yang besar sekali itu, apa sih yang didapatkan warga Denmark ? Banyak sekali.

  • Gratis biaya sekolah dan dokter. Oh ya, tapi antri dokternya sangat lama.. Yah mirip BPJS juga ya.
  • Cuti melahirkan sebanyak 52 minggu untuk ayah dan ibu[2]. Ibu boleh cuti 4 minggu sebelum proses melahirkan, dilanjutkan 14 minggu setelahnya. Sang ayah boleh mendapatkan 2 minggu setelah melahirkan. Sisa 30 minggu cuti boleh dipakai oleh ayah / ibu secara bergantian. Menyenangkan bukan ? Tidak perlu pusing tentang anak ketika anda bekerja.
  • Uang saku anak (child benefit). Jumlahnya 18000 DKK (~36 juta rupiah) per tahun untuk anak 0–2 tahun, dan menurun jumlahnya seiring anak tumbuh besar. [3]
  • Cuti per tahun sebanyak 25 hari yang boleh dipakai kapan saja.
  • Dana pendidikan, sering disebut dengan SU di Denmark. Ini yang paling saya suka, kapan lagi anda dibayar untuk kuliah ? Jumlahnya sekitar 6000 DKK (12 juta rupiah) per bulan sebelum pajak. Saya kurang tahu berapa pajaknya untuk yang ini, tapi rata-rata cukup untuk bayar kosan dan hidup super sederhana.

Saya rasa skema ini lah yang membuat Denmark berada di tingkatan atas di negara paling bahagia di dunia. Kalau hidup di Indonesia, uang anda harus dibagi ke pendidikan anak, kesehatan, cicil rumah, cicil mobil. Di Denmark cukup anda fokus beli rumah ;). Sebagai pemegang paspor Indonesia yang bekerja di Denmark, kita tetap mendapatkan semua keuntungan tersebut (kan kita juga bayar pajak), kecuali dana pendidikan yang hanya bisa diterima untuk warga Denmark dan Uni Eropa. Di Denmark saya mengenal yang disebut keseimbangan hidup dan pekerjaan. Oh ya, biasanya jam kerja adalah jam 8 pagi hingga 4 sore. Jadi ada banyak waktu untuk bersama keluarga.

2. Serba informal

Warga Denmark sangat informal, mau CEO ataupun Presiden sekalipun tetap dipanggil dengan nama depan (kecuali keluarga raja yaa). Ini juga mendorong budaya hiearki datar. Tidak perlu serba sopan dan hormat bila ngobrol dengan orang lebih tua ataupun senior. Hal ini agak lucu, karena bahkan ketika di taman kanak-kanak, para bocah memanggil gurunya dengan nama depan. Saya gak kebayang kalau di Indonesia ini terjadi, entah apa yang akan terjadi di sekolah.

3. Budaya sepeda yang kental

Kalau di Jakarta terdapat lajur khusus TransJakarta, maka di Denmark terdapat lajur khusus sepeda. Nah lucunya, kalau di Indonesia sering razia motor, di Denmark adanya razia sepeda ;). Kelengkapan sepeda sepeti bel, lampu depan, lampu belakang, dan rem yang bekerja adalah hal yang wajib. Untuk belok kanan atau kiri juga harus memberi tanda dengan tangan kita. Budaya bersepeda begitu melekat di Denmark, sampai anak-anak kecil diberikan pengajaran khusus tentang etiket bersepeda.

Denmark - Budaya yang kental dengan sepeda
Denmark – Budaya yang kental dengan sepeda

Saya sendiri lebih senang bersepeda daripada menunggu bus dan kereta datang di malam hari. Warga Denmark tidak peduli cuaca untuk bersepeda. Mau hujan lebat, mau salju tinggi, tetap saja orang-orang bersepeda. Kalau jaraknya terlalu jauh, di tiap kereta ada gerbong khusus untuk sepeda !

4. Kota yang cantik dan nyaman

Kalau London dan Jakarta adalah kota padat yang sibuk oleh lalu lalang orang dan dipenuhi gedung pencakar langit, tidak dengan kota Denmark seperti Kopenhagen. Kopenhagen lebih mirip sebuah kafe yang besar. Hampir tidak ada gedung tinggi di Kopenhagen, jalanannya relatif kecil dan banyak kafe dan bar. Anda kemungkinan besar tidak akan langsung jatuh cinta dengan Kopenhagen di pandangan pertama. Namun setelah hidup di sini, anda sadar sebuah kota yang layak huni seharusnya seperti Kopenhagen.

Denmark terdengar seperti surga ya, lantas kenapa saya tidak betah tinggal di sana ya ?

5. Cuaca

Jujur, Indonesia lebih seperti surga kalau secara cuaca. Sepanjang tahun temperatur hanya 30an derajat Celcius. Tidak perlu pakai lotion dan lip balm sebelum keluar rumah. Denmark secara posisi lintang tidak setinggi itu, namun dari November hingga kira-kira April, matahari sangat jarang terlihat.

Matahari terbit sekitar jam 8–9 dan terbenam di pukul 15–16. Kalaupun sedang ada matahari, langit seringnya mendung dan hujan / salju jadi bisa 1 minggu tidak melihat matahari. Banyak yang jatuh depresi karena cuaca, saya tidak bohong. Apalagi bagi para mahasiswa yang mempunyai beban kerja yang berat. Saya sih tidak kangen hal ininya.

6. Kurang bersahabat

Orang Denmark cenderung ramah dan baik, namun bukan berarti akan langsung diajak ngopi bareng tiap akhir minggu. Orang-orang Denmark biasanya sudah punya lingkup sosial sejak kecil, dan tidak berusaha melebarkan jejaring sosialnya. Artinya ? Sangat-sangat sulit untuk benar-benar berteman dengan orang Denmark. Tentunya pengalaman setiap orang berbeda-beda ya, tapi mayoritas teman-teman Indonesia merasa begitu. Mereka cenderung tertutup dan butuh usaha sangat lebih untuk benar-benar kenal dekat dengan mereka. Ini juga berlaku untuk teman-teman saya yang jauh ekstrovert !

Lebih parahnya, aliran anti imigrasi sedang naik daun di Denmark. Arah kebijakan-kebijakan imigrasinya selalu memojokkan para pendatang, memberi sinyal seakan-akan “Kalian tidak diterima di sini”. Contohnya ? Setiap orang yang menerima kewarganegaraan Denmark harus datang ke upacara penyerahan dan wajib berjabat tangan[4]. Lantas kalau anda Muslim dan tidak mau berjabat tangan dengan lawan jenis… ? Begitulah. Tapi ini tidak berlaku di kehidupan sehari-hari , saya belum pernah didiskriminasi atau mengalami rasisme selama tinggal di Denmark.

7.  Mahal

Masih ingat dengan jumlah pajak yang diberikan ke saya? Itu juga berlaku untuk beragam macam bisnis di Denmark. Pajak tinggi sementara para bisnis tetap ingin mendapatkan profit, solusinya harga barang-barang dinaikkan tinggi. Makan di restoran yang ‘cukup layak’ bisa menghabiskan 600 ribu rupiah seorang.

Segala hal yang berhubungan dengan jasa juga mahal. Ganti ban sepeda bisa bayar hingga 400 ribu rupiah. Ini bukan hanya untuk orang non-Denmark, para warganya sendiri pun menganggap makan di luar mahal. Makanya kegiatan sosial biasanya adalah berkumpul di apartemen / rumah seseorang kemudian masak-masak daripada pergi ke restoran dan nongkrong.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page