Take a fresh look at your lifestyle.

Dari Daerah Manakah Dukun Terkuat di Indonesia?

Dari Daerah Manakah Dukun Terkuat di Indonesia?

Suku Dayak
0 261

Dukun merupakan salah satu profesi yang di geluti masyarakat Indonesia. Hampir setiap daerah di Indonesia mempunyai duku-dukun yang penuh dengan ilmu supranatural. Percaya atau tidak percaya urusan kamu seh. Namun di Quorad. id selalu ada pembahasan yang menarik. Seperti kali ini ada pertanyaan tentang dari daerah manakah dukun terkuat di Indonesia?

Dari berbagai jawaban yang ada, team bapermulu.com mengutip pendapat yang sangat menarik yaitu pendapat dari Rawin Bedjo, pekerja serabutan yang suka ngojol. Berikut jawabannya yang membuat mimin tercengang.

Saya bukan penggemar dukun. Hanya kebiasaan sebagai perantau, setiap pertama kali menginjakkan kaki di daerah baru, saya suka mencari tahu kearifan lokal daerah itu. Bagaimana sejarahnya, mitos dan adat istiadat agar saya tidak melakukan hal-hal yang menyinggung pemilik kawasan. Kebiasaan itu membuat saya suka sowan ke tokoh atau tetua adat setempat di kesempatan pertama.

Menganggap dukun Dayak paling sakti, awalnya saat saya di Banyuwangi yang kental dengan kisah mistis. Hasil ngobrol dengan seorang kyai di sana, saya dapat info, “ilmu santet di sini memang menakutkan, mas. Tapi masih kalah hebat dengan santet daerah Pangandaran…”

Ok, dukun Pangandaran lebih hebat.

Ndilalah, sekitar tahun 1999 saya bertugas di Pangandaran bertepatan dengan ramainya kasus pembantaian dukun santet di sana.[1] Suasana mencekam, jalanan langsung sepi ketika hari mulai gelap, membuat saya ingat ucapan spiritualis Banyuwangi sebelumnya.

Saya menemui “orang pintar“, bicarakan fenomena pembantaian dukun santet Pangandaran dan Banyuwangi yang terjadi dalam waktu berbarengan. Terlepas dari dugaan dukun santet hanya kedok pembunuhan[2] , di bahasan tentang mana yang lebih sakti, spiritualis Pangandaran justru berkata sebaliknya. “Guru santet paling sakti jaman dulu akhirnya bisa dibunuh dengan cara dipenggal. Supaya tidak hidup lagi, badannya dikuburkan di Parigi (dekat Pangandaran) sedangkan kepalanya di Banyuwangi. Biarpun satu guru satu ilmu, santet Banyuwangi tetap lebih hebat karena kepalanya ada di sana. “

Kemudian dilanjut, “Tapi ada yang lebih menakutkan, santet Dayak…”

Baiklah, dukun Dayak lebih sakti.

Siapa sangka, 10 tahun berikutnya saya nyasar kerja di tambang batubara di daerah Barito Timur yang warganya dominan suku Dayak Ma’anyan. Seperti biasa saya cari info untuk kulanuwun dan berkunjung ke petilasan penguasa Dayak masa lalu, Soeta Ono[3] dan panglima perangnya Toemenggoeng Djaja Kartie.[4]

Saat gendu-gendu rasa dengan tetua adat Kaharingan setempat, saya sempatkan bertanya apakah benar magic Dayak lebih hebat daripada Jawa. Jawaban yang saya dapat justru mematahkan mitos yang saya yakini bertahun-tahun. “Bagaimana bisa, orang kita bergurunya ke Jawa..?”

Kok bisa, kah? (*kakah = kakek dalam bahasa Ma’anyan)

“Orang Ma’anyan itu, ibunya dari Jawa bapaknya dari China. Makanya orang Jawa kita anggap saudara tua. Dari orang Jawa juga kita belajar ilmu-ilmu ghaib..”


Sedikit OOT. Saya jadi percaya cerita suku Jawa dan Ma’anyan satu rumpun setelah belajar bahasanya. Contoh gampang di hitungan 1 – 9. Dalam bahasa Jawa, “siji loro telu papat lima enem pitu wolu sanga.” Di bahasa Ma’anyan, “isa rueh telu epat dime enem pitu walu suei.” Mirip kan?


Kembali ke dukun mana yang paling hebat, saya jadi ingat pepatah Jawa bahwa hidup itu “sawang sinawang.” Kita cenderung menganggap orang lain “lebih” atau “kurang” tergantung kepentingannya.

Dukun Banyuwangi bilang Pangandaran lebih hebat. Dukun Pangandaran menyatakan sebaliknya lalu mengatakan dukun Dayak paling hebat. Dan dukun Dayak sendiri bilang kalah hebat dibanding Jawa.

Jadi mana yang lebih hebat?

Saya tidak bisa memutuskan. Silakan anda simpulkan sendiri berdasarkan pengalaman dan informasi yang anda dapatkan. Terima kasih.

Salam, rwn

Catatan Kaki

[1] Mengenang Peristiwa Pembantain Dukun Santet di Pangandaran

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page