Take a fresh look at your lifestyle.

Benarkah, Anak- Anak Yang Paling Menderita Dari Perceraian Orang Tuanya?

Seringkali Rasa Iba Dari Orang Lain Justru Membuat Anak Merasa Tak Dihargai, Bahkan Jadi Pelampiasan Olokan Atas Perilaku Orang Tuanya

Anak Korban Perceraian Orang Tua
0 219

Perceraian adalah suatu perbuatan yang diperbolehkan, namun dibenci oleh Tuhan.

Tahu kenapa alasannya dibenci? karena tidak hanya akan meretakkkan sillaturahmi antara kedua keluarga yang sempat bersatu namun pasti dalam perceraian ada pihak yang akan merasa terzalimi bahkan menjadi beban, yaitu anak anak. Titipan Tuhan terindah yang dipanggil buah hati, namun menjadi masalah baru saat orang tuanya bercerai.

Jadi, jika ditanya apakah anak anak yang akan merasa paling menderita saat orang tuanya bercerai? jawabannya adalah Iya. Kecuali didalam suatu kondisi dimana salah satu orangnya membawa efek yang buruk untuk perkembangan fisik dan psikis anak anaknya. Meskipun awalnya anak pasti menderita. Namun, saat mereka dewasa dan cukup mengerti, maka mereka akan baik baik saja.

Hal Pertama Yang Akan Membuat Anak Menderita, Yaitu Saat Mereka Disuruh Memilih Salah Satu Orang Tuanya, Atau Mungkin Tidak Keduanya

Ketika muncul pertanyaan “Kamu mau ikut ayah atau ibu?” Kamu sama sekali tak tahu apa yang sedang ada dalam pikiran anak tersebut. Dia disuruh memilih diantara kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Dia masih kecil dan belum banyak mengerti. Namun sudah diminta menjatuhkan pilihan yang orang dewasa saja, mungkin belum tentu mampu untuk menjawabnya. Sehingga kebanyakan dari mereka akan menjawab “Kenapa Ayah dan Ibu tidak bersama saja?”

Apalagi jika ternyata anak tidak punya pilihan. Tahu tahu sudah ditinggalkan begitu saja, atau dititipkan ke neneknya yang sudah sepuh untuk menjaganya. Mungkin mereka sedang berpikir, “Ibu dan Ayah tidak menginginkanku lagi” atau “Apa aku sudah melakukan kesalahan, hingga membuat mereka membuangku?”

Sejak saat itu, anak-anak akan merasa tidak ada yang tulus mencintainya dan menginginkannya.

Kedua Saat Anak Harus Merasakan Berpindah Pindah Pada Lingkungan Yang Asing, Tanpa Salah Satu Atau Kedua Orang Tuanya

Saat orang tua bercerai, maka mau tidak mau anak akan ikut salah satu orang tua, atau hidup bersama keluarga dari orang tuanya, misal nenek dan kakeknya. Saat itu, tak semua anak siap untuk menerima lingkungan barunya dan bisa menerima kondisi dimana orang tuanya sekarang berpisah.

Ditambah lagi, jika nenek atau kakeknya telah berpulang karena usia, kemudian akan muncul percecokkan baru, yaitu dengan siapa anak anak itu akan tinggal. Apalagi keduanya orang tuanya sudah mempunyai keluarga baru yang belum tentu akan menerima mereka.

Sebaik Apapun Orang Tua Tiri, Tak Semua Anak Siap Menerimanya Dan Tetap Menganggapnya Sebagai Orang Asing.

Cukup beruntung, jika orang tua tiri mereka dapat menerima anak anak itu dengan baik, bahkan menganggapnya sebagai anak sendiri. Namun, faktanya, tak semua kisah akan seperti itu. Seringkali kita mendengar bagaimana kisah tragis anak anak yang mendapatkan penyiksaan dari orang tua barunya. Mulai dari kekerasan fisik hingga seksual.

Selain itu, meskipun orang tua baru mereka sudah begitu baik. Tak semuanya anak anak siap untuk menerimanya. Ada anak yang meskipun merasa bersyukur, tetap memilih untuk tak dekat dengan orang tua barunya. Mereka seolah menjaga jarak dan menjauhi komunikasi. Padahal di usia yg labil, anak biasanya membutuhkan perhatian dan bimbingan lebih dari orang tuanya. Namun, karena perasaan canggung yang mereka rasakan, menghalangi keinginan untuk dekat dan terbuka.

Terakhir, Seringkali Rasa Iba Dari Orang Lain Justru Membuat Anak Merasa Tak Dihargai, Bahkan Jadi Pelampiasan Olokan Atas Perilaku Orang Tuanya

Mungkin orang itu bermaksud baik dan merasa iba. Namun seringnya, mereka tidak bisa mengontrol omongan saat menjelekkan perilaku buruk orang tuanya di depan anak anaknya. Sehingga, anak akan merasa terkucilkan, tidak dihargai, dan pembenaran baginya, bahwa dia memang tidak diinginkan.

Ada pula yang akan menjauhi anak anak itu, karena merasa sifat buruk pada orang tuanya akan menurun pada anaknya. Sehingga olokan dan hinaan dari teman sebaya atau orang yang lebih tua tak terelakkan.

Untuk itu, Sebagai Orang Tua Sebisa Mungkin Cobalah Pertahankan Rumah Tanggamu Demi Anak Anakmu, Selama Itu Bisa Di Pertahankan.

Jika memang ada masalah, akan lebih baik jika anak anak tidak sampai menerima dampak dari masalah tersebut. Sebagai orang tua, orang yang sudah dewasa, maka wajib untuk selalu mengutamakan dan membahagiakan anak anaknya.

Sebisa mungkin, jika hubungan masih bisa diperbaiki, maka perbaikilah. Jangan terburu buru untuk memutuskan perceraian. Namun, jika ternyata perpisahan tak dapat untuk dihindarkan, maka jaga psikis anak anak agar tidak terguncang. Ingatlah, kehadiran mereka bukan mereka yang mau. Tapi karena Tuhan begitu baik memberikan hadiah paling indah dalam kehidupan kalian sebagai orang tuanya.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

You cannot copy content of this page